Monday, 8 April 2013

AAI Mengalihkan Duniaku


Tulisan dibawah ini adalah tulisan yang sengaja aku beritahukan kepada para kawanku yang sebelumnya masih tersimpan manis di folder ingatanku. Kubuat dengan sedikit narsis :p, segenap semangat, impian-impian dan harapan tentang diriku yang telah menjadi bagian dari suatu komunitas Islam di Universitas Sebelas Maret Surakarta..
Lebih dari setengah tahun yang lalu...

                                                                                    
Kedua orang tua saya memberikan sebuah nama yang cukup simpel..Amy Mukaromatun Luthfiana. Amy sendiri diambil dari cuplikan nama Ibu saya “Utami”, sedangkan Mukaromatun berarti suci tapi nama Luthfiana merupakan imbuhan dari nama Ayah saya yakni “Lufhfil Hakim”. Maksudnya apa??? Saya sendiri saja bingung, hahaha….tapi intinya kalau menurut orang jawa itu nama saya amat berat filosofinya. Eh kok gitu? Soalnya nama saya memuat nama kedua orang tua saya, tandanya saya benar – benar dituntut untuk lebih bisa menjaga nama baik mereka pula. Cieee….

#skip
Kalau amanah, khususnya dalam organisasi, saya hanya berkecimpung di organisasi yang lebih bersifat social dan tidak sangat Islam berarti, maksutnya di organisasi tersebut lebih berkegiatan yang menyangkut masalah – maslah social. Meskipun saya tidak menjadi bagian dari suatu organisasi Islam namun saya merupakan keluarga dari salah satu komunitas AAI bersama beberapa kelompok kecil AAI saya yakni Niken, Faridha, Luluk, Rita, Shafa, Afi, Wiwit, Rahmi. Kami disana memang tidak memiliki amanah seperti yang ada pada suatu organisasi lainnya namun AAI telah mempertemukan saya dengan sahabat sekalian. Kami belajar bersama tentang Islam, berbagi cerita tentang kehidupan di luar sana yang jarang saya sendiri bisa mengalaminya serta berbagi pengalaman baik pengalaman pribadi maupun pengalaman tentang orang lain. Saya benar – benar kaget, karena awalnya saya piker AAI itu seperti mentoring – mentoring Islam seperti pada umumnya, contohnya Rokhis, namun saat saya berada dalam AAI disana ternyata lebih santai dan juga kekeluargaan. Setiap kali jumpa kita pasti saling menceritakan keadaan masing – masing, berkeluh kesah bersama bahkan yang lebih menariknya lagi kita juga bepergian ke suatu tenpat dan juga jalan – jalan, kadang ya makan – makan. Awalnya sungguh berat haru- teman saya yang saya rasa mereka amat lebih tahu tentang Islam dari pada saya. Tapi ternyata terdampar itu tak selamanya menyebalkan. Sungguh..saya sekarang merasa AAI adalah bagian dari kehidupan saya, dengan segala kekurangan saya. AAI membuat saya selalu berusaha menebar kebaikkan Islam khususnya ke orang – orang disekeliling saya karena dari awal sering lupa akan ajaran Islam yang sudah seharusnya saya terapkan di kehidupan sehari – hari.

Lalu AAI ini membuat saya kembali melatih kedisiplinan saya terhadap kewajiban beribadah. Dulu saya hanya memikirkan bahwa cukup dengan mengerjakan ibadah wajib maka saya bukannya orang musrik, namun setelah ada AAI saya beserta teman – teman saya diajarkan untuk melakukan amalan yang telah kita sepakati bersama, seperti sholat jama’ah, sholat sunah, tilawah, puasa, dll yang perlu kita lakukan tiap minggu itu berapa kali. Sehingga saya yang dulu hanya beribadah secara minimal sekarang saya berlatih untuk mengerjakan amalan ibadah lainnya yang pastinya banyak manfaatnya. Setiap minggunya apabila amalan tersebut dirasa dapat terpenuhi maka kami akan menambah porsi ibadah tersebut, Amalan tersebut sesungguhnya melatih kita agar dapat membiasakan diri untuk mengerjakannya karena sesuatu yang kita kerjakan apabila sudah menjadi kebiasaan maka amalan tersebut dapat kita lakukan secara biasa selayaknya kebiasaan kita. Waktu untuk ibadah lebih terorganisir dan saya insyaalah bisa membiasakan untuk beribadah khususnya sholat agar tepat waktu. Melakukan semua itu memang awalnya berat bagi saya namun setelah saya sendiri merasakan manfaatnya, hal tersebut justru menjadi kepuasan tersendiri pada akhirnya. Jadi inget dosa - dosa di masa lalu saat saya lalai akan beribadah kepada Allah L
Tetapi sekarang dan seterusnya ibadah lancar terus deh ….aminnnnn J


#Doa’in yahh :D

Mimpi diri sendiri. Yang paling utama, adalah menjadi istri dan ibu yang penuh teladan untuk keluargaku nanti. Awalnya agak phobia menuliskan hal ini menjadi deretan mimpi yang pertama, akan tetapi teringat perkataan seorang yang luar biasa bahwa kita khususnya saya sebagai seorang wanita memang sudah seharusnya menempatkan hal itu menjadi deretan mimpi pertama, karena dari sanalah seorang wanita memperoleh kemuliaannya dan pahala yang tak terhingga. Kemudian, ingin naik haji dengan keluarga secepatnya. Mengenai pendidikan..ingin menyelesaikan pendidikan S1 dan profesi tepat waktu, tidak mendzolimi diri sendiri dan keluarga. Ingin juga melanjutkan pendidikan ke Inggris gara – gara suka nonton Harry Potter, kalaupun tidak bersekolah disana, minimal tinggal atau berlibur disana :D Saya senang bersama menjadi bagian dari AAI, karena apa? karena saya suka bergaul dengan siapa saja asalnya orang tersebut tidak alergi dengan sifat saya, saya suka mempelajari tentang Islam dimana saya bisa mendapat banyak motivasi dari kisah – kisah para Nabi dan Rasul untuk berani menuliskan mimpi yang tadi saya curahkan, saya merasa hati saya tetap berada dekat dengan Allah dengan terus mempelajari Islam dan memperdalaminya yang pasti berkat AAI saya merasa terus memperoleh jalan untuk tetap dekat dengan Allah tentunya. Dan diatas yang paling utama adalah bisa menginjakan kaki di SURGA yang mengalir sungai-sungai dibawahnya. J

"Jangan pernah merutuki kelelahan, menyesali pengorbanan, mengeluh tentang suatu hal. Sebab surgaNya ada dalam setiap tetes peluh, melekat dalam aliran darah& Yakinlah, tidak pernah ada yang sia-sia di hadapan Allah."
Thanks a lot for AAI, you give me spirit to love Islam well